Home Parenting Anak Trauma? Jangan Lakukan 5 Hal Ini Saat Si Kecil Berbuat Salah

Anak Trauma? Jangan Lakukan 5 Hal Ini Saat Si Kecil Berbuat Salah

Author

Date

Category

Lintang Media, 2021. Anak-anak memang selalu datang dengan tingkah laku yang penuh kejutan. Hingga seringkali tanpa sengaja ia melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan atau berbuat salah. Orang tua biasanya akan merespon dengan marah atas kesalahan yang dilakukan oleh si kecil. Bahayanya, marah orang tua dapat menyebabkan anak trauma jika dilakukan dengan cara yang kurang tepat.

Memberi teguran atas kesalahan yang dilakukan anak memang bukan perbuatan yang salah. Namun ada baiknya saat memberikan teguran kepada anak, tetap memikirkan perasaan anak. Setidaknya jangan melakukan hal-hal ini saat anak berbuat salah.

Langsung menyalahkan tanpa mendengar cerita dari si kecil.

Ketika anak melakukan kesalahan, apa respon pertama yang ayah dan ibu tunjukkan? Apakah akan langsung marah dan menegur kesalahan si kecil? Dengan cara ini, mungkin ayah dan ibu berpikir bahwa bisa dengan mudah mendisiplinkan anak setelah mereka melakukan kesalahan.

Namun, anak juga pribadi mandiri yang butuh didengarkan. Meski pemikiran anak masih sederhana, tetapi orang tua harus mencoba untuk mendengarkan penjelasan atau pembelaan dari sisi anak. Di balik kesalahan yang dilakukan anak, pasti ada alasan. Biarkan anak memberikan penjelasan terlebih dulu. Pun tetap dengarkan meskipun alasan yang mereka berikan sesederhana “tidak sengaja”.

Dengan begini, anak akan terlatih untuk berbicara jujur pada orang tua. Sebab orang tua menunjukkan sikap mau mendengarkan pendapat anak. Kepercayaan anak pada orang tua pun akan lebih meningkat.

Berbicara dengan nada tinggi atau membentak karena dapat membuat anak trauma seketika.

Membentak anak atau berbicara dengan nada tinggi hanya akan membuat anak trauma. Bukan membuat mereka interospeksi akan kesalahan mereka, anak malah akan membuat kesalahan yang lain sebagai bentuk protes mereka terhadap ayah dan ibu.

Tak hanya itu, hubungan orang tua dan si kecil mungkin akan merenggang. Anak akan takut untuk jujur atas perbuatan salah yang ia perbuat, karena dalam benak anak, orang tuanya hanya akan membentak dan marah. Sehingga anak akan lebih sering bohong ketimbang jujur kepada orang tua.

Sehingga ada baiknya orang tua juga mulai mengelola emosi. Dan tetap berbicara tenang saat memperingatkan anak setelah berbuat salah. Dengan berbicara tenang, anak bisa lebih mendengarkan ayah dan ibu, lo.

Langsung memarahi di depan umum.

Bagaimana rasanya jika ayah dan ibu ditegur di depan umum? Tentu malu bukan? Kita saja yang dewasa akan malu menghadapi kondisi seperti itu, si kecil pun akan merasakan hal yang sama jika ayah dan ibu langsung memarahi mereka di depan umum.

Baca artikel lainnya:
Pentingnya Peran Ayah Dalam Tumbuh Kembang Anak Laki-laki
Lirik Lagu Pok Ame Ame Lagu Anak Indonesia

Lebih baik tahan amarah ayah dan ibu kepada anak saat berada di depan umum. Anak juga memiliki perasaan malu dan kecewa. Alih-alih merenungi kesalahan, si kecil malah akan semakin kecewa kepada ayah dan ibu karena dianggap mempermalukan.

Memberikan “hukuman” yang terlalu berlebihan atau bahkan tak ada relasi sama sekali.

Apakah ayah dan ibu termasuk sering memberikan hukuman saat anak melakukan kesalahan? Konon memberi hukuman akan memberi anak pemahaman bahwa selalu ada konsekuensi atas segala hal yang mereka lakukan. Sehingga mereka akan berpikir dua kali untuk melakukan kesalahan.

Meski memberi hukuman ada sisi baiknya, namun orang tua juga harus berhati-hati dalam memberikan hukuman agar tidak kebablasan. Seringkali orang tua memberikan hukuman yang berlebihan atau bahkan tak berhubungan dengan kesalahan anak.

Misalnya saja ketika anak-anak bertindak ceroboh dengan merusak mainannya, ayah dan ibu langsung memberi hukuman anak tidak boleh bermain lagi seterusnya atau bahkan diancam tidak akan diajak bepergian. Memberi hukuman yang berlebihan hanya akan membuat anak merasa tidak diperlakukan tidak adil.

Anak justru tidak akan belajar apa itu konsekuensi dan merasa haknya diambil. Berilah hukuman yang sesuai dan secukupnya saja. Dengan begini anak akan bisa belajar dari kesalahan yang ia buat. Jadi misal kesalahan anak adalah merusakkan mainannya, orang tua bisa memberik hukuman agar anak tak bermain selama kurun waktu tertentu saja. Lalu mengajaknya untuk bersama-sama memperbaiki mainan yang rusak.

Menganggap semua tingkah aktif anak adalah kesalahan. Karena pemikiran tersebut akan membekas dan mudah menjadikan anak trauma.

Tingkah anak yang dianggap terlalu aktif kadang seringkali dianggap kesalahan oleh orang tua. Anak yang aktif biasanya akan senang berlari, memanjat, dan mengeksplore semua hal di sekitarnya. Di mata orang tua, tingkah anak tersebut hanya akan membuat ayah dan ibu kerepotan. Sehingga ayah dan ibu sibuk melarang anak melakukan hal ini dan itu.

Padahal anak-anak kita hanya sedang menikmati masa-masa bermain mereka. Sikap anak aktif justru harus disyukuri karena mereka akan belajar dari banyak hal. Jadi jangan selalu menganggap keaktifan mereka adalah kesalahan. Jika terus dilarang-larang, si kecil hanya akan merasa selalu disalahkan.

Menjaga emosi ayah dan ibu tetap stabil saat anak berulah memang tidak mudah. Segala teori yang disebutkan memang tak semudah itu diterapkan pada kenyataannya. Tapi bukankah menjadi orang tua juga komitmen seumur hidup? Dan saat menjadi orang tua, ayah dan ibu sudah berkomitmen untuk mendidik anak dengan baik.

Maka dari itu, orang tua harus lebih bisa memahami anak, bahkan saat mereka melakukan kesalahan. Toh ketika si kecil melakukan kesalahan bukanlah aib yang harus disembunyikan, melainkan harus dibimbing secara perlahan. Yuk bagikan artikel ini melalui WhatsApp untuk teman atau saudara yang butuh informasi tentang parenting.

Featured image: Photo by Arwan Sutanto on Unsplash

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here