Lintang Media, 2021. Tantrum adalah kondisi ketika seorang anak meluapkan emosinya dengan cara yang meledak-ledak. Misalnya menangis hingga tersedu-sedu, menjerit, melempar barang, atau berguling-guling di lantai. Kondisi ini biasanya dialami oleh anak usia 1 hingga 4 tahun, namun tidak menutup kemungkinan kondisi ini dialami hingga dewasa jika terus dibiarkan.
Menghadapi kondisi anak yang seperti ini jelas membutuhkan kesabaran. Sebagai orangtua, marah atau memukul anak bukanlah solusi yang tepat. Alih-alih mereda, emosinya justru bisa semakin meledak apabila dihadapi dengan amarah. Lalu, bagaimanakah solusi yang tepat untuk menghadapinya?
Mengenal penyebab tantrum pada anak.

Kita perlu mengetahui terlebih dahulu penyebab mengapa anak tantrum untuk bisa menemukan solusi yang tepat. Seperti yang kita ketahui, anak-anak belum memiliki kecakapan bahasa yang mumpuni untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Emosi yang terpendam akhirnya diluapkan menggunakan cara-cara seperti menjerit, meronta, melempar barang, menangis dengan kencang, hingga berguling-guling.
Dalam kasus tertentu, tantrum juga bisa disebabkan oleh faktor psikologis. Faktor psikologis tersebut misalnya: anak menderita gangguan perilaku atau masalah psikologis seperti autisme. Bisa juga karena anak mengalami stres yang berkepanjangan hingga menyebabkan depresi.
Baca artikel lainnya:
Mengenalkan Literasi Keuangan pada Anak sejak Dini
Yuk, Bantu Anak Mencuci Tangan dengan Benar

Selain masalah psikologis, tantrum juga bisa menjadi cara anak melakukan observasi terhadap orang di sekitarnya. Perlu diketahui, anak adalah seorang pemerhati yang sangat peka. Mereka memperhatikan hubungan antara perilaku mereka sendiri dengan sekitarnya. Misalnya: dengan mereka menangis, menjerit, atau membanting barang apakah permintaan mereka akan dipenuhi? Jika iya, maka hal itu bisa dianggap sebagai salah satu cara untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.
Perilaku ini tentu saja bisa berakibat buruk apalagi ketika sudah menjadi kebiasaan. Oleh sebab itu, orang tua perlu menghentikannya sebelum terlambat. Berikut cara yang bisa kita lakukan untuk menghadapi anak yang tantrum:
1. Tenang ketika menghadapi anak tantrum.

Melawan emosi dengan emosi justru akan membuat keadaan semakin memburuk. Selain itu, jika kita menghadapi anak dengan amarah, anak justru akan semakin meledak-ledak. Sehingga kita perlu waspada dan memindahkan benda yang membahayakan di sekitar anak. Benda seperti kaca atau yang beraliran listrik bisa melukai anak ataupun orang-orang di sekitarnya. Jauhkan mereka dari benda-benda ini ketika sedang tantrum.
2. Berikan sentuhan kasih sayang.
Dekatilah anak secara perlahan kemudian berikan sentuhan kasih sayang seperti mengelus punggung, memeluk, atau membelai rambutnya. Tindakan kecil semacam ini sangat ampuh untuk meredakan emosinya. Sentuhan lembut juga bisa jadi bahasa non-verbal untuk menunjukkan bahwa orang tuanya peduli dengan mereka.
3. Alihkan perhatian ketika anak tantrum.

Jika sentuhan lembut tidak mempan, kita bisa mencoba mengalihkan perhatiannya dengan benda-benda yang mereka sukai. Misalnya boneka, mainan, musik dan lagu kesukaan, atau yang lainnya. Benda-benda ini hanya berfungsi untuk sementara mengalihkan perhatiannya. Namun, setelah tantrumnya mereda, kita perlu menjalin komunikasi dengan mereka.
4. Berikan penjelasan yang mudah dipahami anak.
Cari tahu apa yang menyebabkan anak tantrum. Tanyakan kepada mereka dan jelaskan dengan baik alasan kenapa mereka menjadi tantrum. Misalnya ketika anak menginginkan sesuatu dan kita tidak memenuhinya, berikan pengertian mengapa kita melakukannya. Dengan demikian, mereka juga mengerti tindakan orang dewasa.
5. Jangan selalu menuruti keinginan anak.
Sekali waktu mungkin tidak masalah tetapi jika terus-terusan, anak bisa menganggap bahwa keinginan mereka hanya bisa terpenuhi ketika mereka menunjukkan perilaku tantrum. Bersikaplah tegas meskipun mungkin sedikit menyakitkan. Jangan biarkan perilaku buruk anak seperti menjerit, berguling-guling, atau meronta-ronta ketika menginginkan sesuatu bertahan hingga dewasa kelak.
Itulah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi anak yang tantrum. Kendalikan emosi Anda sebelum mengendalikan emosi mereka. Yuk, tuliskan komentarmu di bawah ini ya.
Editor: Anisa Sari Asih


















