Lintang Media, 2021. Warisan daerah berupa lagu tradisional memang mengandung nilai yang sarat makna. Di era digital seperti sekarang ini, eksistensi lagu anak tradisional mulai luntur dan tidak populer. Padahal banyak lagu tradisional daerah yang memiliki pesan moral yang bisa digunakan sebagai teladan sehari-hari.
Kita bisa mengajak anak bernyanyi serta mengenal nilai dan pesan kebaikan dari beberapa lagu daerah berikut ini.
Tokecang

Judul lagu yang berasal dari Jawa Barat ini merupakan kepanjangan dari tokek makan kacang. Lirik dari Tokecang menceritakan seorang pencuri kendil. Kendil ini berisi sayur kacang yang kemudian bolong karena terbentur saat dicuri. Sayur kacang di dalamnya tumpah dan akhirnya dia tidak mendapat apa-apa.
Dinyanyikan dengan irama ceria, lagu ini mengajarkan kita banyak nilai kehidupan. Misalnya, kerendahan hati, kemauan untuk berbagi, serta tidak boleh bersikap rakus dan tamak. Karena bila begitu, kita pada akhirnya tidak akan mendapatkan apa-apa.
Baca artikel lainnya:
Mengenalkan Coding pada Anak sejak Kecil
Tips Masak Bersama Anak di Rumah dengan Aman
Manuk Dadali

Lagu selanjutnya masih berasal dari Jawa Barat adalah Manuk Dadali. Manuk Dadali berarti burung garuda, lambang negara Indonesia. Lagu ini menjadi pengingat nilai-nilai patriotisme seperti yang tergambar pada liriknya yang mengingatkan persatuan, kerukunan, tanpa ada rasa iri dan dengki.
Manuk Dadali juga ikut mengekspresikan rasa cinta dan menaikkan doa serta harapan terhadap keutuhan bangsa. Sifat-sifat tersebut merupakan penguat yang disimbolkan lewat burung garuda.
Dengan begitu, lagu ini cocok untuk digunakan untuk mengajarkan anak kita tentang kerukunan, persatuan, dan kedamaian sejak kecil.
Cublak-Cublak Suweng

Cublak-Cublak Suweng adalah lagu yang diciptakan oleh Sunan Giri sekitar tahun 1442 M. Lagu ini digunakan untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Jawa. Selain itu, banyak dinyanyikan sebagai iringan permainan tradisional yang dimainkan oleh anak-anak di Jawa Tengah.
Lagu ini menceritakan tentang tempat suweng, perhiasan perempuan di Jawa. Melambangkan kebahagiaan sejati yang sebenarnya sudah ada di hati setiap orang. Namun menjadi kotor karena nafsu, ego, dan keserakahan manusia dalam proses pencarian kebahagiaan tersebut.
Lagu ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia harus kembali ke hati nurani yang tulus dan bersih. Karena kebahagiaan hadir dari dalam hati manusia.
Soleram
Soleram, soleram, soleram anak yang manis
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merahlah pipinya
Satu dua tiga dan empat
Lima enam tujuh delapan
Kalau Tuan dapat kawan baru sayang
Kawan yang lama dilupakan jangan
Siapa yang tidak tahu lagu di atas? Lagu ini berasal dari bumi lancang kuning (Riau). Soleram memiliki nada dan bait yang sederhana, namun juga membawa pesan mendalam. Lagu ini biasa dinyanyikan oleh orang tua kepada anaknya sebelum tidur.
Bait pertama lagu ini merupakan nasihat orang tua agar anaknya bisa menjaga kehormatan, menjunjung tinggi nama baik, dan menjaga nilai-nilai agama yang ada di dalam dirinya. Sedangkan bait kedua merupakan pesan agar sang anak tidak melupakan perbuatan baik orang yang sempat menjadi teman kita.
Kampuang Nan Jauh di Mato

Lagu dari Sumatera Barat ini menceritakan tentang seorang perantau yang merindukan kedamaian dan kehangatan dari kampung halamannya. Syair ini juga menyatakan kerinduannya kepada orang tua, para warga, dan teman masa kecil.
Di dalam lagu, penyair juga menggambarkan masyarakat Minang yang memiliki nilai sosial yang tinggi. Mereka suka saling tolong menolong dan berbagi senang sama di rasa. Kita juga dapat membayangkan keasrian kampung Minang lewat lirik yang menggambarkan alam indah dikelilingi pegunungan. Lagu ini ditutup dengan keinginan penyair untuk pulang ke rumah, ke kampung Minang di mana ia dibesarkan. Jadi kangen kampung halaman ya.
Tuliskan rekomendasi lagu anak tradisional dari daerahmu di kolom komentar ya. Bagikan juga tulisan ini pada temanmu.
Editor: Anisa Sari Asih


















